Jumat, 04 Juni 2010

Kisah Anjing yang Setia


Alkisah seekor anjing yang sangat setia kepada tuannya. Kemanapun
tuannya pergi ia selalu mengikutinya untuk melindungi sang tuan. Ia
sangat patuh dan selalu menuruti perintah tuannya. Anjing ini memang
jenis anjing yang langka. Ia juga bisa berkomunikasi dengan manusia
segala umur. Kebetulan sang tuan mempunyai anak kecil yang mulai
bisa bermain. Anjing itu kadang ikut bermain dengannya. Jadilah
anjing itu sangat disayang tuannya sebagaimana sang anak.


Suatu ketika sang tuan pergi untuk berbelanja besar ke pasar yang
biasa ia lakukan setiap akhir pekan. Kali ini ia tidak mengajak
anjing kesayangannya. Sebab, ketika itu anaknya sedang pulas tidur
di kamarnya. Dan ia tugaskan anjingnya untuk menjaga sang anak.
Anjing itu menuruti apa kata tuannya walaupun raut mukanya
menyiratkan sedikit kekecewaan karena tidak bisa pergi bersama
tuannya. Ia kemudian naik ke tempat tidur di mana anak tuannya
sedang pulas mendengkur. Ia juga ikut tidur bersamanya untuk
menemani dan menjaganya.

Mulailah sang tuan pergi menuju pasar. Sesampainya di sana, ia beli
barang-barang yang sudah ia rencanakan sebelumnya. Tak lupa pula
beberapa mainan kesayangan anaknya ia beli semua. Terakhir untuk
sang anjing, ia belikan tulang-tulang dan daging kesukannya.
Kemudian ia pulang dengan ceria karena ia telah dapat membeli semua
barang sesuai rencana.

Sesampainya di rumah, ia langsung disambut oleh anjing kesayangannya
dengan penuh suka dan gembira. Tapi sang tuan justru menampakkan
ketidaksukaannya --sikap yang tidak pernah ia tunjukkan selama ini.
Ia heran melihat mulut anjingnya yang belepotan darah pertanda baru
saja ia habis makan besar. Ia mengira bahwa anjingnya telah memangsa
sang anak yang ditinggalkannya. Perasaan marah dan sedih berbaur
jadi satu. Dengan pikiran kalut ia amat menyesalkan dirinya sendiri
mengapa ia tidak mengajak anjing pergi bersamanya atau pergi bersama
anaknya atau...

Dengan penuh marah dan geram, langsung saja ia ambil sebilah golok
panjang dan tanpa pikir lagi ia ayunkan golok itu ke leher anjing
yang selama ini selalu menemaninya. Tak ada perlawanan sedikitpun
dari sang anjing yang sedang gembira menyambut tuannya datang. Darah
muncrat membanjiri halaman rumah. Tubuh anjing itu langsung
tergelepar, tergolek,.. dan akhirnya tak bergerak lagi, mati. Ia
merasa puas telah membinasakan anjing yang telah merenggut nyawa
anaknya. Tapi perasaan sedih tetap saja tidak bisa ia pendam. Dengan
air mata yang menggenang di pelopak matanya, ia pergi menuju kamar
tempat tidur sang anak. Ia ingin melihat sisa-sisa mayat dan tulang
belulang anaknya.

Dibukalah pintu kamar dan langsung ia lemparkan pandangannya ke atas
ranjang. Namun, dengan mata melotot dan terbelalak-heran ia temukan
seekor ular besar tercabik-cabik di atas ranjang bekas tempat tidur
anaknya semula. Kemudian ia cepat bergegas menuju taman di belakang
rumah tempat anak dan anjingnya biasa bermain. Ia lihat di sana sang
anak tertawa riang bermain di taman itu.

Sekarang, barulah ia menyadari semuanya bahwa ia salah sangka
terhadap anjingnya yang selalu setia kepadanya. Sesungguhnya anjing
itu sangat gembira ketika menyambut kedatangannya untuk menunjukkan
keberhasilannya menjaga anaknya dari gangguan ular berbisa.

Artikel Terkait :